Rabu, 30 Mei 2012

Tahap Perkembangan Embrio



TAHAP PERKEMBANGAN EMBRIO







Di susun oleh :


v  Diska Bintayani
v  Anita mustika ibrahim
v  Rispan Dahlan
v  Rahman
v  Zharul Azmi
v  Basrudin
v  Safina
v  Ariadin
v  Muh. Ihlas






JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012






KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, nikmat serta karunia-Nya yang terus diberikan diberikan kepada kita sehingga makala ini dapat terselesaikan.
Salawat serta salam juga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW atas perjuangan beliaulah yang telah mengeluarkan umat manusia dari zaman jahiliah atau kebodohan kepada cahaya Islam.
Makala ini disusun dari Mata Kuliah “ILMU REPRODUKSI TERNAK”. Dalam makala ini dibahas mengenai Periode Perkembangan Embrio Pada Ternak.
Kami sadar dalam pembuatan makala ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan baik yang kami sadari maupun tidak disadari. Oleh karena itu, kepada semua pihak kritik dan saran yang sifatnya membangun sangatlah kami harapkan.

Kendari,  Agustus 2011
















BAB I 
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Reproduksi adalah suatu proses perkembangbiakan makluk hidup yang dimulai dari bertemunya sel telur yang dilepaskan oleh ovarium dengan sepermatozoa yang dihasilkan oleh testis sehingga dari proses tersebut terbentuk suatu makluk hidup baru yang disebut dengan zigot yang kemudian kondisi tersebut disusul oleh terjadinya kebuntingan serta berakhir dengan kelahiran ( anonymous 2008 ).
Dewasa ini usaha peternakan di Indonesia hampir selalu menghadapi kendala, yang mengakibatkan produktivitas ternak masih rendah. Salah satu kendala tersebut adalah masih banyak kasus gangguan reproduksi menuju kepada adanya kemajiran ternak betina. Hal ini ditandai dengan rendahnya angka kelahiran pada ternak tersebut (Hardjopranjoto, 1995). Angka kelahiran dan pertambahan populasi ternak adalah masalah reproduksi atau perkembangbiakan ternak. Penurunan angka kelahiran dan penurunan populasi ternak terutama dipengaruhi oleh efisiensi reproduksi atau kesuburan yang rendah dan kematian prenatal (Toelihere, 1981).
Lama satu siklus birahi merupakan proporsi lama kebuntingan yang penting dan bila satu siklus hilang karena ketidakberhasilan pembuahan ini merupakan kerugian ekonomi pada sistem produksi yang intensif dan hilangnya siklus kedua karena kegagalan dalam mendeteksi dan menginseminasi kembali hewan yang tidak bunting juga dapat merugikan  dalam segi ekonomi  (Hunter, 1981).
Secara ideal hanya sapi-sapi betina dan pejantan yang normal, sehat dan sangat fertil yang harus dikawinkan, akan tetapi sapi betina maupun sapi jantan mempunyai kesuburan yang berbeda-beda. Apabila sapi betina kurang subur maka kesuburan pejantan menjadi sangat penting (Toelihere, 1981).
1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makala ini yaitu dengan adanya makalah ini dapat membantu daya piker mahasiswa tentang bagaimana proses periode perkembangan pada embrio.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Proses perkembangan embrio
Periode Embrio/organogenesis, Suatu periode ketika sel-sel berada dalam proses pembentukan organ-organ spesifik dalam tubuh embrio. Merupakan periode dimulainya implantasi sampai saat dimulainya pembentukan organ tubuh bagian dalam. Pada sapi berkisar hari ke 12-45 setelah fertilisasi. Selama periode ini akan terbentuk lamina germinativa selaput embrionik dan organ tubuh  (Toelihere,1979).
Pada periode ini meliputi pembentukan:
1.        Lapisan-lapisan lembaga (germ layer)
a. Endoderm  (Lapisan germ yang paling dalam)
·         Pertama tampak ketika suatu lapisan sel tunggal  terdorong keluar dari inner cell mass dan tumbuh mengelilingi blastokul
·         Merupakan awal/origo dari sistem digesti, hepar, pulmo, organ internal lain
b. Mesoderm (Lapisan germ/lembaga  tengah)
·         Lapisan sel2 inner cell mass, yang terdorong di antara endoderm dan ectoderm
·         Origo dari sistem skelet, otot, sistem sirkulasi dan sistem reproduksi
c. Ektoderm (Lapisan germ yang paling luar)
·         Origo dari sistem syaraf, organ indera, rambut, gl.mamme (Toelihere,1979).
2.        Trofoblast akan menjadi:
a. Amnion
·         Non-vaskuler, berisi cairan yang dihasilkan fetus
·         Bantalan untuk proteksi
·         Robek saat kelahiran
b. Yolk sac
·         Sebagai cadangan makanan               
·         Mammalia: atropi
c. Allantois
·         Penuh dengan pembuluh darah
·         Menyatu dengan chorion (Allantochorion)
·         Membawa darah ke chorion
d. Chorion
·         Membran fetus terluar
·         Melekat pada induk (Toelihere,1979).
Tahap awal perkembangan diawali dengan peristiwa pertemuan/peleburan sel sperma dengan sel ovum yang dikenal dengan peristiwa fertilisasi. Fertilisasi akan menghasilkan sel individu baru yang disebut dengan zygote dan akan melakukan pembelahan diri/pembelahan sel (cleavage) menuju pertumbuhan dan perkembangan menjadi embrio.BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Proses perkembangan embrio
Periode Embrio/organogenesis, Suatu periode ketika sel-sel berada dalam proses pembentukan organ-organ spesifik dalam tubuh embrio. Merupakan periode dimulainya implantasi sampai saat dimulainya pembentukan organ tubuh bagian dalam. Pada sapi berkisar hari ke 12-45 setelah fertilisasi. Selama periode ini akan terbentuk lamina germinativa selaput embrionik dan organ tubuh  (Toelihere,1979).
Pada periode ini meliputi pembentukan:
1.        Lapisan-lapisan lembaga (germ layer)
a. Endoderm  (Lapisan germ yang paling dalam)
·         Pertama tampak ketika suatu lapisan sel tunggal  terdorong keluar dari inner cell mass dan tumbuh mengelilingi blastokul
·         Merupakan awal/origo dari sistem digesti, hepar, pulmo, organ internal lain
b. Mesoderm (Lapisan germ/lembaga  tengah)
·         Lapisan sel2 inner cell mass, yang terdorong di antara endoderm dan ectoderm
·         Origo dari sistem skelet, otot, sistem sirkulasi dan sistem reproduksi
c. Ektoderm (Lapisan germ yang paling luar)
·         Origo dari sistem syaraf, organ indera, rambut, gl.mamme (Toelihere,1979).
2.        Trofoblast akan menjadi:
a. Amnion
·         Non-vaskuler, berisi cairan yang dihasilkan fetus
·         Bantalan untuk proteksi
·         Robek saat kelahiran
b. Yolk sac
·         Sebagai cadangan makanan               
·         Mammalia: atropi
c. Allantois
·         Penuh dengan pembuluh darah
·         Menyatu dengan chorion (Allantochorion)
·         Membawa darah ke chorion
d. Chorion
·         Membran fetus terluar
·         Melekat pada induk (Toelihere,1979).
Tahap awal perkembangan diawali dengan peristiwa pertemuan/peleburan sel sperma dengan sel ovum yang dikenal dengan peristiwa fertilisasi. Fertilisasi akan menghasilkan sel individu baru yang disebut dengan zygote dan akan melakukan pembelahan diri/pembelahan sel (cleavage) menuju pertumbuhan dan perkembangan menjadi embrio.

(Gambar 2. Perkembangan awal Embrio)

Tahapan pertumbuhan dan perkembangan embrio dibedakan menjadi 2 tahap yaitu :
1. Fase Embrionik yaitu fase pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup selama masa embrio yang diawali dengan peristiwa fertilisasi sampai dengan terbentuknya janin di dalam tubuh induk betina.
2. Fase fertilisasi adalah pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum dan akan menghasilkan zygote. Zygote akan melakukan pembelahan sel (cleavage)
Kita akan membahas setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya berikut ini.
v   Fase Morula
Pada fase ini zigot mengalami pembelahan. Pembelahan sel dimulai dari satu menjadi dua, dua menjadi empat, dan seterusnya. Pada saat pembelahan sel terjadi pembelahan yang tidak bersamaan. Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub fungsional atau kutub hewan (animal pole) dan kutub vegetatif (vegetal pole). Antara dua kutub ini dibatasi oleh daerah sabit kelabu (grey crescent).setelah pembelahan terjadi pada bagian vertikal, kemudian dilanjutkan dengan bagian horizontal yang membelah secara aktif sampai terbentuk 8 sel. Pembelahan sel berlanjut sampai terbentuk 16-64 sel. Embrio yang terdiri dari 16-64 sel inilah yang disebut morula.

v   Fase Blastula


Pada fase blastula terjadi pembagian sitoplasma ke dalam dua kutub yang dibentuk pada fase moruta. Konsentrasi sitoplasma pada kedua kutub tersebut berbeda. Pada kutub fungsional terdapat sitoplasma yang lebih sedikit dibandingkan dengan kutub vegetatif. Konsentrasi sitoplasma yang berbeda menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan hewan selanjutnya. Pada fase ini kutub fungsional dan kutub vegetatif telah selesai dibentuk. Hal ini ditandai dengan dibentuknya rongga di antara kedua kutub yang berisi caftan dan disebut blastosol. Embrio yang memiliki blastosol disebut blastula.
Proses pembentukan blastosol disebut blastulasi. Setelah fase blastula selesai ditanjutkan dengan lase gastrula.
v   Fase Gastrula


(Gambar 2. Tahap pasca perkembangan embrio)
Pada fase gastrula, embrio mengalami proses diferensiasi dengan mulai menghilangkan blastosol. Sel-sel pada kutub fungsional akan membelah dengan cepat. Akibatnya, sal-sel pada kutub vegetatif membentuk lekukan ke arah dalam (invaginasi). Invaginasi akan membentuk dua formasi, yaitu lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm).
Bagian ektoderm akan menjadi kulit dan bagian endoderm akan menjadi berbagai macam saluran. Bagian tengah gastrula disebut dengan arkenteron. Pada perkembangan selanjutnya, arkenteron akan menjadi saluran pencernaan pada hewan vertebrata dan beberapa invertebrata. Bagian luar yang terbuka pada gastrula menuju arkenteron disebut dengan blastofor. Bagian ini dipersiapkan menjadi anus dan pada bagian ujung akan membuka dan menjadi mulut. Pada fase ini akan terjadi lanjutan diferensiasi sebagian endoderm menjadi bagian mesoderm. Pada akhir fase gastrula telah terbentuk bagian endoderm, mesoderm, dan ektoderm.
Berdasarkan jumlah lapisan embrionalnya, hewan dikelompokkan menjadi dua, yaitu hewan diploblastik dan hewan triploblastik. Hewan diploblastik memiliki dua lapisan embrional, yaitu ektoderm dan endoderm. Contoh hewan diploblastik adalah Coelenterata (hewan berongga). Hewan triploblastik memiliki tiga lapisan embrional, yaitu ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Mesoderm selalu terletak di antara ektoderm dan endoderm.
Hewan triploblastik dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan ada tidaknya selom (berasal dari kata coelom = ruangan yang berongga) dan bagaimana selom tersebut dibentuk selama embriogenesis. Kelompok hewan tersebut yaitu aselomata, pseudoselomata, dan selomata (euselomata). Hewan aselomata tidak memiliki selom, contohnya cacing pipih (Platyhelminthes). Hewan pseudoselomata memiliki selom semu, contohnya cacing tanah. Hewan selomata memiliki selom sesungguhnya, misalnya manusia.
Diploblastik yaitu hewan yang mempunyai 2 lapisan dinding tubuh embrio, berupa ektoderm dan endoderm. Dimiliki oleh hewan tingkat rendah seperti Porifera dan Coelenterata. Gastrulasi yaitu proses pembentukan gastrula.
Organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup (hewan dan manusia). Organ yang dibentuk ini berasal dari masing-masing lapisan dinding tubuh embrio pada fase gastrula.
·      Contohnya :
a. Lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera.
b. Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren.
c. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo.
Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup.

Contohnya :
a.    Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata.
Periode embrio minggu ke tiga sampai delapan merupakan Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk seperti mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar
Embrio dilindungi oleh selaput-selaput yaitu :
1. Amnion yaitu selaput yang berhubungan langsung dengan embrio dan menghasilkan cairan ketuban. Berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan.
2. Korion yaitu selaput yang terdapat diluar amnion dan membentuk jonjot yang menghubungkan dengan dinding utama uterus. Bagian dalamnya terdapat pembuluh darah.
3. Alantois yaitu selaput terdapat di tali pusat dengan jaringan epithel menghilang dan pembuluh darah tetap. Berfungsi sebagai pengatur sirkulasi embrio dengan plasenta, mengangkut sari makanan dan O2,   zat sisa dan CO2.
4. Sacus vitelinus yaitu selaput yang terletak diantara plasenta dan amnion. Merupakan tempat munculnya pembuluhdarah yang pertama

Ø  Tahapan perkembangan pada masa embrio
a.         Bulan pertama : Sudah terbentuk organ-organ tubuh yang penting seperti jantung yang berbentuk pipa, sistem saraf pusat (otak yang berupa gumpalan darah) serta kulit. Embrio berukuran 0,6 cm.
b.        Bulan kedua : Tangan dan kaki sudah terbentuk, alat kelamin bagian dalam, tulang rawan (cartilago). Embrio berukuran 4 cm.
c.         Bulan ketiga : Seluruh organ tubuh sudah lengkap terbentuk, termasuk organ kelamin luar. Panjang embrio mencapai 7 cm dengan berat 20 gram.




PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari permbuatan makalah ini yakni ;
1.        Periode embrio minggu ke tiga sampai delapan merupakan Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk seperti mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar
2.        Tahapan pertumbuhan dan perkembangan embrio dibedakan menjadi 2 tahap yaitu :
a.       Fase Embrionik yaitu fase pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup selama masa embrio yang diawali dengan peristiwa fertilisasi sampai dengan terbentuknya janin di dalam tubuh induk betina.
b.      Fase fertilisasi adalah pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum dan akan menghasilkan zygote. Zygote akan melakukan pembelahan sel (cleavage)
3.        Terdapat tiga fase perkembangan yakni blastula, grastula dan morula

3.2    Saran
Saran yang dapat di simpulkan dari pembuatan makalah ini, agar anggota kelompok lebih aktif dalam berdiskusi sehingga, dapat saling bertukar pendapat









DAFTAR PUSTAKA





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar